Orang-Orang Bermata Kabut-1: BAB 2 | Kabut Perang

in #fiction • 2 months ago

Festival Sastra_11.jpg


DI SINILAH aku akhirnya. Berbaur dengan orang-orang yang mempunyai alasan berbeda untuk mengangkat senjata, untuk berjuang. Menyulitkan diri dengan situasi yang serba terbatas, kesempatan yang terbatas, makan dan minuman terbatas, kehidupan sosial yang begitu jauh, tapi dengan kematian yang begitu dekat. Di permukaan, kami punya alasan sama, memperjuangkan hal yang sama; kemerdekaan. Kebebasan secara politis, ekonomis, dan status. Itulah jualan kami. Tapi dalam hati, aku tahu kami punya alasan berbeda.

Bulan-bulan pertama bersama mereka, aku masih menyesuaikan diri, baik secara emosi maupun fisik. Sangat sulit bagiku untuk segera meleburkan diri karena aku tidak pernah berbaur dengan komunitas apa pun selain bergaul dengan teman-teman sekolah. Tapi tekad kuat bisa menghancurkan batu dan bisa memindahkan gunung, apalagi sekadar menyesuaikan diri dengan kondisi sulit. Manusia diberi kekuatan melewati kesulitan seberat apa pun, termasuk hidup seorang diri seperti yang kualami saat ini.

Tiga bulan bersama, aku sudah bisa memilah-milah alasan setiap orang berada di tengah hutan ini, di antara pepohonan besar dan semak belukar yang memberikan berbagai kesukaran sekaligus juga kemudahan – tergantung bagaimana memanfaatkannya. Motif dan latar belakang mereka adalah catatan pertamaku. Aku menulis tentang Zulfikar Rasyid, orang yang kami panggil sebagai Pemimpin. Ingat, Pemimpin dengan “P” besar. Dia adalah seorang laki-laki gagah dengan postur tinggi, berkulit coklat, rambut tipis nyaris botak, tangan berotot dengan urat menonjol, tetapi tidak kekar sebagaimana gerilyawan yang sering digambarkan dalam film laga. Jangan bayangkan Rambo, Pemimpin jauh dari itu.

Dia cenderung kurus. Bahkan, sebagian besar lelaki dalam kelompok kami berbadan kurus. Mungkin pengaruh makanan dan nutrisi terbatas yang membuat otot sulit berkembang. Namun dengan tipe tubuh seperti itu kami lincah bergerak saat menghindari kejaran musuh seperti seekor kijang yang kabur dari kejaran pemburu.

Mengapa dan bagaimana Zulfikar menjadi Pemimpin, aku sama sekali tidak tahu. Yang bisa aku catat bahwa lelaki itu punya pesona yang kuat. Kharismatik. Kata-katanya selalu didengar, perintahnya selalu dipatuhi. Dia menjadi bagian penting dari gerakan ini karena panggilan jiwa, setidaknya begitulah yang dikatakan orang-orang di sekitarku. Dia murni memperjuangkan kebebasan. Kebebasan secara politis, ekonomis, dan status!

Namun, kehidupannya terlalu mewah untuk seorang gerilyawan. Baju dan celana yang membalut tubuhnya selalu bermerek, berbeda dengan gerilyawan lainnya yang berpakaian kumal. Begitu juga dengan aroma Bvlgari yang menguar dari tubuhnya.

Bvlgari?

Begitulah. Awalnya aku juga kaget seorang pimpinan gerilyawan memakai minyak wangi bermerek. Seorang gerilyawan seharusnya kental dengan bau keringat, bau lumpur, atau aroma darah seusai bertempur, bukan aroma parfum. Kami adalah pemberontak, seperti yang kerap disebutkan media massa asing. Kami bukan peragawan, yang harus tampil dengan baju bermerek dan minyak wangi yang harganya cukup untuk makan kami selama sebulan.

Aku sering bertanya dalam hati, mengapa ia harus menyemprotkan tubuhnya dengan minyak wangi. Bukankah itu malah membuat jejak kami gampang tercium musuh di tengah hutan belantara? Tentara musuh mempunyai penciuman yang tajam. Ini seperti mencium aroma rokok di bulan puasa. Sehembusan asap sejauh 20 meter pun masih bisa terendus.

Pernah kutanyakan pada rekanku. Dan jawabannya membuatku langsung terdiam tak percaya. “Minyak wangi itu sudah dimantrai. Justru aromanya mengelabui musuh. Dan…” ia mendekatkan mulutnya ke telingaku hingga bau busuk mulutnya tercium hidungku,

….”Pemimpin kebal dengan minyak wangi itu. Tapi jangan ceritakan kepada siapa pun. Aku bisa ditembak kalau mereka tahu mengabarkan ini padamu…”


Gladi.jpg

Catatan: Nukilan novel Kabut Perang. Foto pementasan teater.