The Diary Game, July 17, 2026 | My focus is on preventing mental burnout rather than physical exhaustion.

Hᴇʟʟᴏ ꜱᴏʙᴀᴛ ᴋʀᴇᴀᴛɪꜰ
𝗦ejumlah fakta objektivitas dalam diary game adalah kejujuran dokumentasi setiap individu yang tidak mungkin di rekayasa. Hampir sama dengan konten vlog harian. Ya, pengalaman pribadi terus tercipta seriring arah jarum jam yang terus bergerak tanpa henti. Terkadang aku sungkan menulis produktivitas setiap hari karena kesamaan tempat, pekerjaan dan rutinitas. Tapi itu fakta dan tidak mungkin aku tolak.
Semua orang menikmati pagi meskipun dalam keadaan tertidur. Berangkat ke tempat kerja karena berharap imbalan atau upah adalah hal Lumrah karena setiap manusia memiliki begitu banyak keinginan dan harapan. Tapi ada sejumlah rutinitas "bukan" karena upah seperti antar dan menjemput anak ke sekolah, berbelanja atau membantu istri atau keluarga.

...seperti biasa, sejak pagi aku telah berada di tempat kerja memenuhi tanggungjawab dengan sejumlah aktivitas rutinku. Jam istirahat ka tor malahan bukan aku manfaatkan untuk beristirahat, namun menjadi celah untuk menjemput putriku pulang sekolah.
Sebelum masuk jadwal shalat Jum'at, sisa waktu jam istirahat kantor juga aku gunakan untuk kegiatan berbelanja. Ada sejumlah kebutuhan dapur yang mulai kosong. Pasar Inpres adalah pusat perbelanjaan tradisional yang aku favoritkan hingga saat ini, karena dengan IDR 100.000 masih bisa aku beli beberapa barang kebutuhan sehari-hari yang tidak mungkin aku dapatkan di swalayan modern yang dibanderol dengan harga mati.

Harga fleksibel dan tawar menawar membuatku lebih leluasa berbelanja meskipun hanya membawa uang yang nilainya sama dengan 145 Steem saat harga dikonversi.
Selesai membeli setumpuk ikan, sayuran hijau dan beberapa barang kebutuhan rumah tangga lainnya, aku dan putriku kembali Bali ke rumah. Aku masih menyisakan sejumlah uang yang hanya cukup untuk mengisi 1 liter bahan bakar Pertamax seharga 16.000 IDR.
![]() | ![]() |
|---|---|
Aku harus bersabar menunggu hasil belanjaanku yang masih mentah untuk di olah menjadi makanan lezat siap saji oleh istriku tercinta. Prosesnya tentu lama, jadi aku mulai bersiap untuk melaksanakan shalat Jum'at terlebih dulu. Masjid yang aku tuju untuk kegiatan ibadah rutin mingguan ini adalah Masjid Darussalam yang berlokasi di Jl. Listrik Desa Hagu Selatan Kota Lhokseumawe. Kebetulan letak tempat ibadah ini sangat dekat dengan kediamanku.
![]() | ![]() |
|---|---|
Singkat kisah, seusai kegiatan shalat Jum'at, aku kembali ke tempat kerja, tentu saja setelah menikmati makan siang bersama keluarga di rumah. Beberapa pekerjaan harus aku buru meskipun aku menyadari itu mustahil dapat aku selesaikan sebelum jam pulang kantor tiba.
Aku tidak berpikir untuk menyelesaikan semuanya, tapi hanya berupaya merampungkan pekerjaan yang aku anggap penting dan mendesak. Aku berpegang pada skala prioritas agar tidak terbebani oleh kelelahan mental atau jenuh.

Benar! Aku masih saja berkutat dengan pekerjaan lamaku sejak bulan lalu. Keterlibatan ide dan pemiikiran dari sejumlah instansi lainnya tidak lantas membuat suatu pekerjaan terlaksana secara efektif. Kepadatan komunikasi, perdebatan asumsi justru membuat kami bertambah pekerjaan yang seharusnya sudah dieksekusi.
![]() | ![]() |
|---|---|
Pukul 17.50 wib aku masih berada depan labtob, semua ruangan mulai sepi karena mereka yang tidak terlibat dan tidak mau melibatkan diri dalam kegiatan bidang kami telah kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluarga mereka. Ya! seorang bawahan tidak berhak untuk kesal atau marah. Beberapa dari kami yang masih "bersedia" harus terus tersenyum meskipun tidak tampak rapi seraya berucap "siap pak!".
Sekian... Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..
salam,
@ridwant






https://x.com/i/status/2079234190273663458
Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Huge thanks @wirngo 🙏🙏
Terima kasih kanda @yuswadinisam 🙏