Dear Mantan; Rasa yang Tertinggal dalam Kopi Kenangan

in STEEM Literacy • last year

20251025_092554.jpg

BEBERAPA waktu lalu, aku mampir ke sebuah gerai kopi yang cukup terkenal: Kopi Kenangan. Bukan karena sedang ingin mengenang siapa pun, tapi karena ingin menikmati rasa kopi susu yang selalu jadi pelipur selepas hari yang panjang.
Namun, seperti namanya, begitu melangkah masuk, aku merasa seolah menjejak di antara aroma kopi dan sisa-sisa kenangan yang bertebaran di udara.

Aku tidak datang sendirian. Sebelumnya, putriku yang sulung, Nadya, pernah bercerita bahwa di sana ada kopi ukuran besar—satu liter penuh. Ia tahu betul ayahnya penyuka kopi susu, dan seperti biasa, dia menyebutnya dengan nada manja, “Ayah pasti suka yang ini.”
Dan memang benar, aku pun akhirnya memutuskan untuk membelinya.

Saat menunggu pesanan, mataku tertumbuk pada sebuah tulisan kecil di atas meja:

“Dear Mantan, Terima kasih untuk tidak membawa makanan dan minuman dari luar.”

Aku tersenyum kecil.
Lucu juga, pikirku. Bahkan peringatan sederhana pun dikemas dengan sentuhan perasaan. Tapi di balik kelucuan itu, ada sesuatu yang lain—semacam kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Mungkin karena kata mantan punya kekuatan magis; bisa membuat siapa pun tiba-tiba berhenti, menarik napas, dan mengingat sesuatu… atau seseorang.

Suasana di dalam kedai terasa ringan tapi penuh makna. Musik lembut mengalun, aroma kopi berbaur dengan creamer cair yang sedang diseduh. Setiap sudutnya seakan berbicara tentang kisah yang pernah ada dan rasa yang belum selesai.
Aku menatap ke luar jendela—rintik hujan mulai turun perlahan. Ada semacam ketenangan yang berembus lembut, seperti pesan dari masa lalu yang datang tanpa diminta.

Kupikir, mungkin begitulah kenangan. Ia tak perlu diundang, tapi selalu tahu kapan harus datang.
Segelas kopi—atau satu liter, seperti yang kubeli hari itu—bisa saja jadi teman terbaik untuk mengendapkan perasaan yang belum sempat terselesaikan.

Aku meneguknya perlahan. Rasa manisnya lembut, tidak berlebihan, seperti sisa kenangan yang mulai berdamai dengan waktu.
Dan di antara hirupan pertama dan terakhir, aku berbisik dalam hati,

“Dear Mantan, terima kasih... untuk semua yang pernah hangat, dan kini menjadi dingin dengan elegan.”

Kopi Kenangan hari itu bukan sekadar minuman. Ia seperti jendela kecil, tempat aku belajar bahwa yang sudah pergi tetap bisa dikenang—tanpa harus disesali.

20251025_092544.jpg

20251025_092536.jpg

20251025_092530.jpg