Di Antara Hujan yang Tak Reda dan Janji yang Tak Tersampaikan

in STEEM Literacy10 months ago (edited)

Tanpa Judul.jpg

MALAM sekarang terasa lebih dingin dari biasanya. Musim hujan sudah benar-benar tiba, dan di tempat saya, hujan bisa berembus turun dua hari tanpa jeda, seolah langit pun sedang kelelahan menahan isinya. Di balik jendela, tetes-tetes air memantul di kaca, memecah cahaya lampu jalan menjadi bayang-bayang keemasan yang bergeser pelan.

Sudah sejak kemarin tubuh saya mulai meriang. Demam kecil datang dan pergi, seperti gelombang yang tak ingin benar-benar surut. Anehnya, mesin pendingin ruangan tidak lagi saya butuhkan; udara malam sudah cukup dingin untuk membuat selimut terasa lebih akrab daripada biasanya.

Berita tentang banjir pun berseliweran di mana-mana. Di layar ponsel, saya melihat foto-foto jalanan yang berubah menjadi sungai, rumah yang digenangi air setinggi lutut, bahkan negara tetangga pun tak luput dari amukan cuaca. Hujan yang tak berhenti—kadang terasa seperti berkah, kadang seperti ancaman yang menunggu celah.

Namun ada satu hal lain yang tak kalah ramai: undangan pesta. Entah dari mana datangnya, seolah seluruh kota sepakat menggelar hajatan di waktu yang sama. Mungkin karena bulan puasa sudah dekat. Orang-orang berlomba-lomba mengatur tanggal sebelum kesibukan ibadah menutup ruang untuk pesta dan riuh rendah musik malam.

IMG_20240702_134555.jpg

Kemarin, ada satu undangan yang seharusnya saya hadiri. Orangnya bukan sekadar kenalan—dia seseorang yang cukup dekat, seseorang yang akan saya sambangi tanpa pikir panjang bila tubuh ini sedang sehat. Tapi antara demam yang mengendap dan hujan yang merintik tanpa henti, langkah saya terasa berat untuk keluar rumah. Saya hanya mampu menatap tirai yang bergoyang perlahan, berharap siang akan memberi cuaca yang lebih baik, namun hari berganti tanpa perubahan.

Ada rasa bersalah yang muncul, tapi juga ada kenyataan yang tak bisa saya abaikan: tubuh saya sedang meminta jeda, dan langit di luar pun tak memberi kesempatan. Dalam hening itu saya hanya bisa mengirim doa, semoga tuan rumah memahami, semoga hajatnya berjalan lancar tanpa kehadiran saya.

Dan malam pun kembali turun pelan. Hujan masih berembus dari arah yang sama. Dunia seperti sedang memaksa manusia untuk sejenak menunda langkah, menerima bahwa ada hal-hal yang tak bisa kita atur, bahkan ketika undangan pesta datang bertubi-tubi. Kadang, hujan dan demam adalah cara alam mengingatkan: bahwa tak semua harus dikejar; sebagian cukup dilepas, disyukuri, dan dihargai sebagai bagian dari perjalanan hari-hari yang terus bergerak.