Fadhil: Yang Tulus Tak Pernah Kalah

in STEEM Literacy11 months ago

Hari Minggu siang itu, langit Lhokseumawe berwarna lembut. Matahari jauh dari kata terik, seolah tahu ada sepasang insan yang sedang menapaki babak baru dalam hidupnya. Di Desa Mesjid Cunda, suasana meriah dan hangat terasa sejak dari jauh. Musik pesta berpadu dengan suara orang-orang yang datang memberi selamat. Di tengah keriuhan itu, saya datang bersama istri dan anak sulung saya, Nadya Husna Keumala.

Kami datang untuk menghadiri pesta pernikahan Fadhil — atau, kalau mau lebih formal, Fakhrizal. Namun bagi kami di kantor, dia tetaplah Fadhil: sosok sederhana, bersahaja, tapi penuh semangat hidup.

Fadhil bukan orang yang suka banyak bicara. Ia bekerja sebagai tenaga kebersihan di kantor saya, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Lhokseumawe. Tapi di balik pekerjaannya yang sederhana, ada ketekunan yang luar biasa. Ia selalu datang paling awal, dan pulang paling akhir. Tak pernah mengeluh, tak pernah menampakkan lelah.

Beberapa kali dia terpilih sebagai pegawai teladan. Bukan karena dia paling menonjol, tapi karena dia paling tulus. Ada ketulusan yang membuat siapa pun yang melihatnya akan berpikir: hidup memang bukan tentang posisi, tapi tentang niat dan kerja keras.

Fadhil bukan dari keluarga yang kekurangan, sebenarnya. Tapi dia memilih jalan yang tak semua orang mau menapaki — bekerja dengan tangannya sendiri, tanpa gengsi. Ia pernah bercerita singkat, bahwa dulu sempat kuliah di Jakarta. Namun tak sempat selesai. Entah karena apa, mungkin nasib, mungkin keadaan. Ia kemudian pulang ke Lhokseumawe dan melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh.

Waktu berjalan, dan ia tak pernah menyerah. Tahun lalu, akhirnya ia lulus — menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Saya masih ingat senyumnya waktu itu, penuh kebanggaan, tapi tetap rendah hati seperti biasa.

FADHIL WEDDING - 2.jpeg

Dan kini, ia menikah. Istrinya, Wardah Zakia Salamah, adalah kekasih lamanya — gadis asal Bogor yang dikenalnya sejak masa kuliah di Jakarta. Mereka sudah melewati banyak hal bersama, jarak, waktu, dan ketidakpastian. Tapi cinta, jika dijaga dengan sabar, memang selalu menemukan jalannya.

Di pesta itu, saya melihat Fadhil dengan pakaian pengantin sederhana tapi rapi. Wajahnya bersinar bahagia. Nadya sempat tersenyum saat melihatnya, mungkin teringat bahwa Fadhil adalah kakak kelasnya dulu saat berstatus sebagai santri di Pondok Pesantren Yapena Arun. Ada rasa bangga yang samar, dan juga haru.

Saya memandang Fadhil lama-lama. Dalam hati, saya berpikir — betapa hidup ini adil bagi mereka yang sabar. Tak ada yang terlalu kecil untuk bermimpi, dan tak ada pekerjaan yang terlalu rendah bila dilakukan dengan ikhlas.

Fadhil telah membuktikannya. Dari seorang mahasiswa yang sempat tersandung di Jakarta, menjadi sarjana ekonomi di Malikussaleh. Dari pekerja kebersihan di kantor, menjadi pegawai teladan. Dan kini, menjadi seorang suami bagi wanita yang ia perjuangkan sejak lama.

Hari itu, di antara tawa dan musik, saya merasa melihat sepotong kisah kehidupan yang indah — kisah yang tak ditulis di panggung besar, tapi di hati orang-orang kecil yang besar jiwanya.

Fadhil mungkin bukan siapa-siapa di mata dunia, tapi di mata saya, ia adalah cermin tentang bagaimana manusia seharusnya hidup: dengan kerja keras, dengan kesetiaan, dan dengan hati yang tetap rendah, bahkan ketika bahagia telah datang mengetuk.

Tanpa Judul.jpg

Sebelum beranjak pulang, saya bermunajat; Ya Allah, satukanlah mereka dalam cinta yang tak lekang oleh waktu.
Jadikan rumah mereka teduh oleh kasih, dan langkah mereka ringan oleh sabar. Jika kelak datang badai, jadikan pelukan mereka tempat berlindung. Jika datang air mata, biarlah mengalir bersama doa yang Kau dengar.

Berikan mereka bahagia yang tenang, panjang umur cinta, dan hati yang selalu saling memilih — hingga surga kelak mempersatukan kembali. Aamiiin.

Sort:  

@zainalbakri, this is a truly heartwarming piece! The story of Fadhil, from his humble beginnings to achieving his degree and now marrying his sweetheart Wardah, is incredibly inspiring. You've captured his spirit beautifully, showcasing his hard work, humility, and the quiet dignity he carries. The way you've woven in details about his life, from being a pesantren alumnus to his work ethic at KIP Lhokseumawe, makes him so relatable and admirable.

It's a powerful reminder that success isn't always about grand achievements but about the integrity and dedication we bring to our everyday lives. The closing prayer for Fadhil and Wardah is a perfect, touching end. Thank you for sharing this uplifting story – it's a breath of fresh air on Steemit! I hope many others get to read this and feel as inspired as I do. Congratulations to Fadhil and Wardah!

kop indah... semoga bahagia sampe lam syurga