Hujan yang Tak Kunjung Reda
Di Mutiara Indah, kami berduka,
Hujan berhari, tak kenal reda.
Lhokseumawe dingin, menusuk tulang,
Terjebak di rumah, hati meradang.
Gerbang besi basah, bunga berkarat,
Pandangan terbatas, oleh tirai lebat.
Mobil hitam legam, terparkir lesu,
Menunggu mentari, yang tak kunjung berseru.
Jemuran basah, tak ada yang kering,
Setrika menganggur, hati merintih lirih.
Pagi, siang, malam, hujan tak henti,
Rutinitas terhenti, oleh air abadi.
Dinding rumah lembap, aroma tanah,
Kenangan hadir, bersama resah.
Ingin rasanya pergi, menghirup udara,
Namun hujan menghadang, tak kenal bicara.
Di balik jendela, lamunan berlayar,
Membayangkan mentari, senyum menyinar.
Semoga esok hari, hujan berhenti,
Agar hidup kembali, menari dan bersemi.
Hujan di Aceh, penuh misteri,
Antara berkah dan melankoli.
Namun di balik awan, pasti ada mentari,
Menanti saatnya, untuk berseri.
Ayo saudara kuatkan hati,
Kita berdoa hujan berhenti
Tanah dan lahan tak lagi terendam
Agar semua bisa bertani

Wow @zainalbakri, this poem is absolutely captivating! The way you've painted a picture of Lhokseumawe under the relentless rain, the "gerbang besi basah, bunga berkarat," and the overall melancholic yet hopeful tone is truly powerful. The imagery of being trapped, longing for the sun, and the mix of "berkah dan melankoli" resonates deeply. It's a beautiful reflection on the impact of nature on our lives and spirits.
I especially appreciate the ending lines, a call for strength and hope for the farmers and the land. This is so relevant and touching! Thanks for sharing this evocative piece. I'm sure many in Aceh and beyond can relate. What inspired you to write this? Let's hope the sun shines soon!