Pagi yang Menyembuhkan di Ujong Blang
PAGI ITU, jalanan masih sepi. Udara terasa sejuk, berembus lembut dari arah laut, membawa khas yang samar-samar tercium hingga ke dalam mobil kami. Matahari baru saja muncul di ufuk timur, sinarnya menembus sela pepohonan, menebar warna keemasan di sepanjang jalan menuju Pantai Ujong Blang. Di kursi depan, istri saya tampak tersenyum, sementara Nadya, anak sulung kami, duduk di belakang sambil memutar lagu pelan dari ponselnya. Suasananya begitu damai—seolah hari itu memang diciptakan untuk kami.
Perjalanan menuju pantai selalu membawa rasa hangat tersendiri. Jalanan masih lengang, hanya sesekali terlihat pengendara sepeda motor yang melintas, mungkin nelayan atau warga yang baru selesai berolahraga pagi. Di sisi kiri jalan, deretan pohon kelapa bergoyang perlahan, seakan ikut menuntun langkah kami menuju laut.
Begitu tiba di Pantai Ujong Blang, suasananya masih tenang. Ombak kecil menyapu pasir yang lembut, meninggalkan jejak buih putih yang segera menghilang. Langit biru muda terbentang luas, dan dari kejauhan terlihat beberapa anak kecil berlari-lari di tepi air. Kami memilih tempat yang agak sepi, menaruh tikar, dan mulai menikmati kesegaran pagi yang luar biasa itu.
Setelah beristirahat sejenak, kami mencoba ritual sederhana yang kini menjadi kebiasaan setiap kali ke sini—berendam pasir laut. Kata orang, berendam dalam pasir yang hangat bisa membuat tubuh rileks dan menyehatkan kulit. Saya dan Nadya tertawa saat istri saya mencoba menimbun kakinya dengan pasir, sementara matahari mulai naik perlahan, memanaskan butiran halus itu hingga terasa nyaman di kulit.
Beberapa menit kemudian, kami menuju laut. Air asin yang dingin menyapa tubuh, membuat kami serentak menarik napas panjang. Rasa segar itu luar biasa, seperti membangunkan seluruh indera. Ombak datang silih berganti, lembut tapi cukup kuat untuk membuat kami tertawa kecil setiap kali airnya mengenai wajah.
Setelah puas bermain air, kami beranjak ke pondok langganan kami, Pondok Rujak Kakuci. Tempat ini sudah seperti bagian dari ritual setiap kunjungan ke pantai. Istri saya selalu memujinya, terutama karena kamar mandinya bersih—hal kecil yang membuatnya merasa nyaman. Dan tentu saja, rujak dan mi Aceh di sini selalu jadi penutup sempurna setiap perjalanan kami. Rujaknya segar, pedasnya pas, sementara aroma mi Aceh yang mengepul membuat suasana semakin akrab.
Kami duduk bersama di pondok, menikmati makanan sambil memandangi laut yang mulai dipenuhi pengunjung. Nadya bercerita tentang sekolahnya, istri saya tertawa menanggapi, dan saya hanya diam mendengarkan—menyimpan momen itu dalam ingatan.
Pagi yang sederhana di Pantai Ujong Blang itu terasa begitu istimewa. Tak ada kemewahan, tak ada rencana besar, hanya kami bertiga dan laut yang setia menenangkan hati. Dan di antara desir ombak yang terus berembus, saya merasa—kebahagiaan memang sering datang dari hal-hal sesederhana ini.



