Orang-Orang Bermata Kabut-2: BAB 2 | Kabut Perang
Aku yang sejak kecil sudah diajari untuk meyakini hal-hal gaib seperti percaya kepada hari kiamat, tidak bisa percaya bahwa minyak wangi bisa mengelabui musuh. Konon lagi bisa memberi kekebalan. Mungkin yang dimaksud kekebalan dari bau tak sedap. Kalau itu tidak perlu diperdebatkan lagi. Tapi kalau kebal dari peluru, tunggu dulu. Parfum Bvlgari akan lebih mahal dari mobil mewah dan berton-ton minyak wangi akan dikirim ke medan perang untuk menggantikan rompi antipeluru. Aroma harum semerbak akan menggantikan bau amis darah di semua medan perang. Meski tidak mampu mencairkan kesedihan bagi orang yang ditinggalkannya, tetapi kematian di medan perang yang wangi akan lebih diharapkan semua prajurit daripada mati di medan perang yang penuh amis darah.
Meskipun tidak pernah percaya tentang keampuhan minyak wangi tersebut, aku tidak mengatakannya. Akan ada perdebatan panjang dan mereka tidak akan senang. Sudah menjadi hukum tak tertulis di sini, hal-hal yang mustahil harus ditanggapi dengan diam. Membantah bisa dianggap musuh, sedangkan aku di sini harus mencari teman kendati harus menelan banyak kekonyolan.
Pemimpin seorang perokok berat. Sehari ia menghabiskan sampai tiga bungkus rokok hingga aku berpikir rokok itu akan lebih cepat membunuhnya daripada peluru tentara nasional. Kegemarannya adalah rokok putih dari luar negeri. Dia menolak rokok dalam negeri untuk alasan cita rasa, gengsi, sekaligus politis. Menurutnya, cukai rokok sangat tinggi. Mengisap rokok dalam negeri akan membuat pajak mengalir deras dan negara mempunyai anggaran untuk membeli senjata dan menembaki kita. “Seperti yang mereka lakukan terhadap ummi-mu, kakakmu, dan abangmu…”
Darahku terasa mendidih mendengar kalimat seperti itu. Semakin sering duduk bersamanya, aku semakin mengerti ternyata ia pandai membangkitkan gelora perjuangan anak buahnya. Memberikan amunisi bagi dendam yang tak pernah pupus seperti kerindangan pepohonan yang memberikan keteduhan bagi kami. Kelak aku akan menunjukkan beberapa orang yang memilih memanggul Avtomat Kalashnikova seri 47 hanya untuk menuntas dendamnya yang tak pernah redup. Kadang dengan dendam yang tak terbalas ia menjemput kematian, atau kematian yang menjemputnya. Mereka tidak bisa memilih, dan mungkin juga demikian nasibku kelak.
Bagaimana Pemimpin memasukkan Bvlgari ke tengah belantara, itu juga menjadi sumber keherananku. Tidak sembarangan orang bisa membeli minyak wangi itu. Bahkan aku berani bertaruh, dalam 10 kecamatan pun, belum tentu ada satu orang yang memakai minyak wangi tersebut. Demikian juga dengan baju bermerek yang ia pakai. Memasok barang seperti itu akan membuat tentara curiga. Meskipun Bvlgari dan Calvin Klain tidak bisa digunakan untuk membunuh, tetapi memilikinya di tengah hutan bisa membuatmu mati jika dalam penggeledahan ditemukan oleh tentara maupun polisi.
Memasok makanan saja bisa menimbulkan segudang pertanyaan. Apalagi minyak wangi dan pakaian bermerek. Banyak pedagang di kampung-kampung yang dikenai wajib lapor karena mengangkut banyak makanan. Tentara menuduh mereka menyuplai logistik buat gerilyawan yang disebut tentara sebagai anggota separatis. Padahal, makanan tersebut untuk dijual kembali kepada masyarakat.
“Itulah hebatnya Pemimpin. Dia punya banyak cara,” sahut orang yang kutanyai.
“Pemimpin punya banyak jaringan. Bahkan sampai ke luar negeri,” timpal yang lain.
“Kadang wartawan yang membawanya…”
Jawaban ketiga lebih mendekati kebenaran, dan lebih jelas sehingga kalau pun salah, aku bisa mempercayainya. Dan sekali waktu, aku membuktikan sendiri memang ada wartawan media nasional yang membawa Pemimpin satu slop rokok luar yang iklannya sering kusaksikan di televisi.
Tapi belum pernah melihat ada wartawan yang membawa baju atau minyak wangi. Kalau pun ada, dan kemudian sering aku lihat, adalah wartawan media nasional yang membawa merchandise medianya masing-masing mulai dari pulpen, kaos oblong, topi, pin, hingga jaket. Kami pun kadang mendapatkan barang seperti itu. Bahkan kemudian, akulah yang paling banyak mendapatkan oleh-oleh dari wartawan karena aku menjadi penghubung dengan Pemimpin dan beberapa tokoh penting lainnya dalam kelompok kami.[]
Bersambung ke Bag-3. Foto-foto peluncuran novel Kabut Perang di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.



This is a very intense and thought-provoking chapter. I was especially struck by the contrast between the seemingly ordinary details, like perfume and cigarettes, and the much darker reality of life in the middle of conflict. The discussion about Bvlgari perfume was almost ironic, yet it also showed how even harmless everyday items could become suspicious or dangerous in such an environment.I also found the description of the leader very interesting. His ability to use personal loss, anger, and political beliefs to strengthen the determination of his followers shows how powerful words can be during a conflict. The narrator’s inner thoughts make the story feel personal and realistic rather than simply describing the war from a distance.The details about journalists, supplies, branded clothing, and cigarettes also give a fascinating glimpse into how difficult it was to maintain connections and obtain everyday necessities in the jungle. I’m looking forward to reading Part 3 and learning more about the narrator’s experiences.
#s34engagement.
Thank you for sharing on steem! I'm witness fuli, and I've given you a free upvote. If you'd like to support me, please consider voting at https://steemitwallet.com/~witnesses 🌟