Peta di Balik Dedaunan

in #indonesia8 days ago

5% dari rewards posting ini adalah untuk @steem.amal

1000127895.jpg
(Efek oleh DeepArtEffects)

Ini bukanlah sekadar jalan setapak biasa di taman kota. Kisah ini adalah tentang sebuah "kebocoran."

Di pinggiran kota yang tenang, ada sebuah koridor sempit yang diabaikan oleh para perencana kota. Mereka melihatnya sebagai jalur pintas kecil di dekat sekolah dan pusat komunitas—sebuah peta standar dari sebuah taman.

Namun, anak-anak setempat tahu lebih banyak. Mereka menyebut jalan ini "Kawasan Merayap."

Di sebelah kiri, di antara semak-semak yang rimbun dan di belakang pagar kayu yang sudah lapuk, ada sesuatu yang tidak semestinya ada di sana. Semak-semak itu terlalu hijau, terlalu lebat untuk tanah yang kering. Batu-batu itu tidak disusun, melainkan tumpah.

Sebenarnya, ini adalah titik di mana dua realitas tumpang tindih secara tidak sempurna. Realitas "Peta Taman" (yang bisa kita lihat sebagai jalan setapak dan pagar kayu) dan realitas "Hutan Kuno" yang liar dan tidak terkendali.

Pagar kayu itu bukan untuk mencegah orang masuk; itu untuk mencegah sesuatu merayap keluar.

Kisah ini berfokus pada Rina, seorang siswa sekolah menengah yang sering menggunakan jalan pintas ini. Suatu hari, saat dia lewat, dia melihat salah satu bilah kayu di pagar itu tidak hanya longgar, tapi tampak terpelintir, seolah-olah ada kekuatan yang melilitnya.

Saat dia mencoba meluruskan bilah itu, dia menemukan bahwa batu di belakangnya bukan hanya batu. Ada tulisan rune yang aneh, hampir seperti ukiran, yang perlahan-lahan memancarkan cahaya hijau luminescent, menggemakan warna hijau semak-semak yang tidak wajar.

Di dalam rimbunnya dedaunan, ada suara mendesing pelan, seperti suara ratusan sayap serangga kecil, tapi terdengar dalam nada frekuensi rendah.

Itulah saat Rina menyadari bahwa "taman" ini adalah sebuah penutup. Dia telah menemukan kebocoran dalam struktur dunianya.

Dia tidak berani melewati pagar itu, tetapi sejak hari itu, setiap kali dia lewat, dia membawa secarik kertas dengan pertanyaan—tentang hal-hal yang dia pelajari di sekolah, tentang mimpi buruknya, tentang dunia di luar pagar. Dia menyelipkan kertas itu di celah bilah kayu yang terpelintir.

Keesokan harinya, kertas itu selalu hilang.

Namun, seminggu kemudian, dia menemukan sesuatu yang lain di celah itu. Itu adalah selembar daun yang belum pernah dia lihat sebelumnya, berwarna ungu tua dengan pola yang tampak seperti rasi bintang.

Itu bukan hanya tanaman. Itu adalah peta.

Daun itu memandu Rina ke arah yang berlawanan dari jalan setapak itu, menjauh dari jalan-jalan kota. Peta itu menunjukkan jalur-jalur rahasia—di atap gedung, melalui gorong-gorong, melintasi taman-taman lain—yang menghubungkan "kebocoran" serupa. Peta itu mengarahkan Rina ke tempat-tempat yang tidak seharusnya ada di peta kota mana pun: sebuah jembatan yang melayang di atas arus waktu, sebuah menara jam yang hanya terlihat saat gerhana bulan, sebuah perpustakaan di dalam sebuah sumur kuno.

Pagar kayu di Kawasan Merayap bukan lagi sebuah batas, melainkan sebuah pintu gerbang. Dan Rina adalah penjaga kuncinya, orang yang mengetahui kebenaran yang tidak biasa: bahwa dunia kita, dengan semua jalan setapak dan pagar kayunya yang teratur, hanyalah sebuah veneer tipis di atas alam semesta yang luas, liar, dan penuh keajaiban yang aneh. Dan terkadang, sangat jarang, jika Anda tahu di mana harus melihat, veneernya bocor.

Dibantu oleh https://gemini.google.com/.

Lihat juga:

Sort:  

Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.