Hidup Jangan Banyak Perhitungan

in Steem SEA • 4 days ago

1000046802.jpg



Mengapa orang yang terlalu penuh tipu muslihat rejekinya malah seret. Pernahkah kamu menyadarinya, orang yang semakin banyak perhitungan, semakin tidak akan mendapatkan keberuntungan. Orang yang semakin tidak mau mengalah, pada akhirnya seringkali mengalami kerugian besar. Pernahkah kamu melihat orang seperti ini, didepan orang bersikap beda, dibelakang orang bersikap beda. Perhitungan keuntungannya lebih licik dari siapa pun, kerugian yang dialami lebih sedikit dari siapa pun. Tapi anehnya mereka tidak pernah bisa mencapai hal besar, dan tidak bisa bertahan hingga akhir.

1000023234.jpg

Sebaliknya, mereka yang terlihat polos, bahkan sedikit lamban, justru selalu bisa mengubah kesialan menjadi keberuntungan, dan hidupnya berjalan mulus. Mengapa bisa begitu. Karena begini, semakin dalam kelicikan semakin dalam bencana, semakin besar kebesaran hati semakin besar rejeki. Semakin berat tipu muslihatmu, semakin jauh kamu dari berkah langit. Semakin kejam perhitunganmu, semakin banyak hal yang akan kamu hilangkan.

Apa itu keberuntungan, bukan ramalan nasib, bukan pula mistis baqua, melainkan hukum alam semesta yang berjalan. Menghidupkan segala sesuatu tanpa memilikinya, menghidupkan segala sesuatu tanpa memilikinya, menyempurnakan segala sesuatu tanpa menguasainya. Tanpa ego, tanpa pamrih, tanpa kata kata, memberi manfa'at bagi semua makhluk hidup, namun tidak pernah menuntut pujian. Tapi bagaimana dengan orang yang penuh tipu muslihat. Setiap langkah hanya menghitung keuntungan, setiap perkataan hanya untuk menguji kedalaman niat orang. Dalam setiap situasi selalu ingin berada diatas angin, kamu menganggap dirimu sebagai pengendali dunia. Namun kamu lupa, begitu kamu berpikir bagaimana caraku menang, semesta pun menertawakanmu, karena didalam otakmu semuanya hanya tentang aku.

Orang sukses yang sejati, kesuksesannya bukan dari hasil perhitungan licik, melainkan dari keselarasan. Menghitung keuntungan seumur hidup, pada akhirnya bahkan satu peti mati pun tak tersisa untuknya. Orang yang benar benar bijaksana tidak perlu penuh tipu muslihat. Mereka bukan tidak mengerti cara menghitung licik, tetapi merasa tidak pantas menyia nyiakan hidup untuk perhitungan semacam itu. Mereka menyimpan energinya untuk intuisi, untuk ketulusan dan untuk mengalir mengikuti keadaan. Orang yang spiritualitasnya tinggi bukan berarti tidak pernah ditipu atau rugi, melainkan mereka mampu menanggung kerugian itu. Karena mereka percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah menelantarkan orang yang baik hati.

Lalu bagaimana cara menumbuhkan kebijaksanaan sejati, yaitu dengan melepaskan siasat licik dalam hati. Pertama, daripada memperhitungkan orang lain, lebih baik memperhitungkan diri sendiri. Daripada selalu memikirkan bagaimana orang lain memperlakukanmu, lebih baik pikirkan apa yang bisa kamu berikan untuk orang lain. Hubungan yang didapat dari perhitungan licik tidak akan bertahan, sedangkan orang yang tertarik datang secara alami tidak akan bisa diusir.

Kedua, biarkan peluru terbang sejenak, jangan terburu buru mengambil kesimpulan. Saat menghadapi konflik dan godaan, jangan terburu buru bereaksi, jangan terburu buru membalas. Tenanglah, dan mundur selangkah. Kamu akan menyadari bahwa banyak hal sama sekali tidak membutuhkanmu untuk turun tangan. Waktu akan membantumu menyaring 90% dari masalahmu.

Ketiga, tulis kata aku lebih kecil, kurangi ego. Dalam segala hal jangan selalu bertanya apakah aku sudah mendapatkannya. Cobalah bertanya apakah hal ini masuk akal, dan apakah ini adil. Ketika kamu tidak lagi menjadikan dirimu sebagai pusat dunia, berkah langit secara alami akan mengalir kepadamu.

Terakhir ingin saya sampaikan, berkah, takdir baik itu bukan hasil perhitungan, melainkan hasil dari cara kita menjalani hidup. Orang yang penuh kelicikan tidak akan melangkah jauh, karena setiap langkahnya adalah batasan bagi dirinya sendiri. Orang yang tidak perhitungan justru akan menembus batas langit dan bumi. Karena kesederhanaan, ketulusan, dan fokusnya, secara kebetulan selaras dengan jalan kebenaran.

Semoga sisa hidup kita kedepannya tidak lagi saling menjatuhkan dengan perhitungan, tidak saling curiga dan tidak dipenuhi kebingungan. Hati memiliki ketenangan, mata melihat gunung dan sungai. Menipiskan siasat dalam hati, memperdalam kebijaksanaan sejati, inilah yang disebut dengan mahakarya sejati yang terbentuk pada waktunya.

Salam kompak selalu.

By @midiagam

Sort:  

Lo que aprendí leyendo esto es que el que calcula todo pierde más de lo que gana, y me quedó dando vueltas la frase de que "el que calcula beneficios toda la vida, al final ni un ataúd le queda". En mi experiencia con negocios familiares vi exactamente eso: gente muy viva para la trampa que nunca llegó lejos. ¿Eso de "baqua" es una expresión local tuya o lo escribiste con otra intención?

Esa frase de "semakin dalam kelicikan semakin dalam bencana" me quedó dando vueltas, porque conozco gente así que calcula todo y nunca llega lejos. ¿Vos lo viviste en carne propia o lo observaste en alguien cercano?